7bI3M4btFAjoZvrj1vXG5ugzifeiqBRX6VeigjIh
7bI3M4btFAjoZvrj1vXG5ugzifeiqBRX6VeigjIh

Followers

Tengah

Lorem Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Morbi enim nunc faucibus a.
Bookmark

Lapang dan Berlapangan

Lapangan adalah ilham yang datang dari tanah yang mendadak menjadi lapang. Manusia baru bisa melihat sesuatu yang lapang setelah melihat sesuatu yang sumpek. Manusia mulai paham rasa lapang setelah tahu rasa sumpek.

Sumpek tak berkaitan dengan type rumah atau soal luas tanah, melainkan berkaitan dengan soal berindividu dan berjamaah. Seseorang bisa saja memiliki hutan yang luas dan lapangan pribadi yang besar, tetapi sepanjang dia hanya memakainya seorang diri, keleluasaan itu tak akan banyak berarti. Sedangkan lapangan, betapapun sempitnya, tetap menyediakan kebebasan bagi penghuninya… begitulah kata Sang Penggoda Indonesia, Prie GS…

***

Ketika SK Penempatan pertama keluar, nama saya tertera disebuah kota kecil di ujung sana. Walaupun tidak sesuai dengan doa dan harapan, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menerima nya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Itulah konsekwensi nya jadi pegawai negeri. Menjadi seorang Pegawai Negeri itu harus bersedia ditempatkan di mana saja, selama disitu bendera merah putih berkibar, maka kesitu kemungkinan kita akan pergi. Sebenarnya bisa saja saya ditempatkan dikota asal saya, cuma karena waktu kuliah prestasinya jeblok gara 10 sks buat kuliah, 10 sks-nya lagi buat main bola, dapat rengking terakhir deh..

Saya pun harus angkat kopor dari kota kelahiran saya itu. Keluarga, Teman, Sepakbola, Tempat Tidur, kenangan masa kecil, harus saya tinggalkan. Yang paling berat adalah mesti meninggalkan lapangan bermain saya, walaupun itu bukan milik saya tetapi karena dari kecil memang saya sudah sering bermain bola diatas nya . saya sangat senang dengan kebiasaan saya ini sehingga sangat sulit untuk di tinggalkan. Diatas lapangan tersebut memberikan saya kebebasan dan mampu menggembirakan saya.

Meninggalkan kebiasaan2 lama selama 22 tahun itu dan memulai kebiasaan baru adalah hal yang membuat saya jadi cemas. Kecemasan itu ternyata semakin menjadi-jadi bila memikirkan bahwa belum tentu ada lapangan ditempat baru itu. Kalaupun ada pasti mungkin belum tentu seheboh lapangan saya ini.

Pun akhirnya ketika pertama kali tiba di kota kecil yang baru ini, yang pertama kali saya cari adalah “lapangan”… lapangan inilah yang nanti menjadi kantor dan rumah bagi mental saya yang udah terlanjur loyo gara-gara pindah tugas untuk waktu yang lama. Ketakutan-ketakutan saya sebelum berangkat ternyata tidak terbukti. Di tempat ini hampir dimana-mana ada lapangan. Bahkan di dekat kantor saya yang baru ini pun terdapat lapangan olahraga yang besar. Semangat saya pun kembali lagi.

Namun kecemasan saya itu kembali muncul lagi. Alasan saya cukup sederhana saja, dikantor ternyata bukan hanya saya saja yang merasa jenuh. ternyata mayoritas adalah pegawai pindahan seperti saya. Ada yang dari kota metropolitan tida tiba terdampar di kota kecil, ada yang meninggalkan anak, istri dan bahkan juga mungkin meninggalkan “lapangan” seperti saya. Sekalipun hampir tiap pulang kantor saya mampir dilapangan yang luas itu untuk bermain bola, namun yang terlihat hanyalah wajah teman-teman saya yang lain dikantor yang merasa bosan.
Memang betul ini bukan masalah type ato luas karena sebagaimana luasnya pun kalo dinikmati sendiri maka keleluasaan itu tidak berarti. Apalagi bukanlah ukuran luas yang kita cari dalam berlapangan. Oleh nya itu, saya memutuskan untuk menciptakan lapangan sendiri dikantor, walaupun dikantor tidak ada tanah lapang, ini kan cuma masalah seni berjamaah saja. Sepanjang kita masih mampu melakukan perkara seni ini, maka lapangan itu akan selalu ada meskipun kanan kiri kita penuh dengan bangunan luas pencakar langit ataupu hutan belantara
Post a Comment

Post a Comment

Dont Hesitate